Perpindahan pusat pemerintahan ke Kalimantan Timur membawa angin segar bagi perkembangan berbagai sektor, tidak terkecuali industri makanan dan minuman. Saat ini, banyak pengamat dan pelaku usaha mulai memetakan potensi Kuliner IKN yang diprediksi akan menjadi perpaduan unik antara cita rasa lokal Borneo dengan standar pelayanan internasional. Sebagai kota masa depan yang mengusung konsep forest city, tren makanan di sana kemungkinan besar akan didominasi oleh konsep keberlanjutan dan bahan-bahan organik yang diambil langsung dari kekayaan hutan Kalimantan.
Salah satu elemen yang diprediksi akan menonjol dalam ekosistem Kuliner IKN adalah adaptasi makanan tradisional suku Dayak dan Banjar yang dikemas secara modern. Bahan-bahan seperti bawang dayak, buah elai, hingga pucuk rotan mungkin akan menjadi bahan dasar kreatif bagi para koki untuk menciptakan menu fusion yang berkelas. Kehadiran ribuan aparatur sipil negara dan ekspatriat dari berbagai negara akan menuntut ketersediaan variasi makanan yang beragam, mulai dari makanan cepat saji yang sehat hingga restoran formal dengan standar bintang lima.
Selain itu, digitalisasi layanan akan menjadi tulang punggung dari pertumbuhan sektor Kuliner IKN di masa mendatang. Dengan infrastruktur teknologi informasi yang canggih, sistem pemesanan makanan berbasis aplikasi dan penggunaan robot pelayan mungkin akan menjadi pemandangan biasa di kafe-kafe sekitar Nusantara. Namun, di balik kecanggihan teknologi tersebut, identitas rasa nusantara tetap menjadi jiwa yang dicari. Para pelaku usaha dituntut untuk bisa menyajikan hidangan yang tidak hanya lezat di lidah, tetapi juga memiliki cerita dan filosofi di balik setiap penyajiannya.
Tren hidup sehat atau healthy lifestyle juga diperkirakan akan sangat kuat mempengaruhi pasar makanan di ibu kota baru ini. Menu-menu berbasis tanaman (plant-based) dan rendah kalori akan memiliki pasar yang besar mengingat profil penduduk IKN yang didominasi oleh kaum profesional muda yang sadar akan kesehatan. Potensi Kuliner IKN sebagai pusat gastronomi baru di Asia Tenggara sangat terbuka lebar, terutama jika didukung dengan regulasi yang memudahkan para pelaku UMKM lokal untuk ikut berpartisipasi dan bersaing secara sehat di area strategis pemerintahan.
