Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur mengusung konsep ambisius forest city, di mana salah satu fokus utamanya adalah tentang Keseimbangan Ekosistem Satwa agar tetap terjaga di tengah modernitas infrastruktur. Sebagai wilayah yang sebelumnya merupakan area hutan produksi dan hutan alam, kehadiran manusia dalam skala besar tentu membawa risiko fragmentasi habitat. Oleh karena itu, otoritas IKN telah merancang berbagai inovasi arsitektur hijau yang memungkinkan satwa endemik seperti orangutan, bekantan, hingga berbagai jenis burung tetap memiliki ruang gerak yang aman.
Langkah konkret dalam menjaga Keseimbangan Ekosistem Satwa adalah dengan pembangunan koridor hijau atau jembatan kanopi satwa di atas jalan-jalan protokol. Koridor ini dirancang agar satwa arboreal (satwa yang hidup di pohon) tetap bisa berpindah dari satu blok hutan ke blok lainnya tanpa harus turun ke jalan yang berisiko tertabrak kendaraan. Selain itu, di bawah jalur transportasi utama, terdapat terowongan khusus satwa yang menghubungkan aliran sungai dan jalur jelajah mamalia darat kecil. Pemisahan jalur antara aktivitas manusia dan jalur migrasi fauna ini menjadi standar baru pembangunan kota berkelanjutan di Indonesia.
Selain infrastruktur fisik, manajemen suara dan cahaya juga menjadi bagian dari upaya menjaga Keseimbangan Ekosistem Satwa. Polusi cahaya di malam hari diminimalisir dengan penggunaan lampu jalan yang hanya mengarah ke bawah dan memiliki spektrum warna yang tidak mengganggu orientasi satwa nokturnal. Penggunaan sensor suara di area sensitif juga diterapkan untuk memastikan kebisingan dari kendaraan atau kegiatan industri tidak masuk ke dalam zona inti habitat. Dengan cara ini, siklus hidup alami satwa seperti waktu mencari makan dan bereproduksi tidak akan terganggu oleh hiruk pikuk ibu kota baru.
Restorasi vegetasi juga dilakukan secara masif dengan menanam kembali pohon-pohon pakan alami bagi satwa lokal dalam strategi Keseimbangan Ekosistem Satwa. Pohon buah hutan dan tanaman asli Kalimantan kembali mendominasi lanskap IKN, menggantikan monokultur yang ada sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan pangan alami bagi fauna tetap melimpah di dalam area kota, sehingga mereka tidak perlu masuk ke wilayah pemukiman warga untuk mencari makan. Keterlibatan para ahli biologi dan konservasi dalam setiap tahap perencanaan tata ruang menjadi jaminan bahwa perlindungan alam adalah prioritas utama.
