Tayangan FTV dan sinetron di Indonesia seringkali menampilkan gambaran kehidupan yang jauh dari realitas sehari-hari mayoritas masyarakat. Gaya Hidup Fiktif berupa kemewahan yang berlebihan, rumah-rumah megah, dan mobil mewah, seolah menjadi latar wajib. Eksploitasi kekayaan ini menciptakan standar hidup yang tidak realistis, terutama di mata penonton muda yang rentan.
Fenomena ini tidak hanya menyajikan kemewahan, tetapi juga memperuncing konflik kelas. Karakter kaya sering digambarkan arogan dan antagonis, sementara karakter miskin digambarkan terlalu polos atau teraniaya. Penggambaran ekstrem ini gagal merefleksikan kompleksitas sosial yang sebenarnya, dan justru membentuk stereotip yang dangkal.
Dampak negatif dari paparan terus-menerus terhadap Gaya Hidup Fiktif adalah munculnya keinginan materialistis yang tidak sehat di kalangan penonton. Mereka mungkin merasa tidak puas dengan kehidupan nyata mereka dan terdorong untuk mengejar standar hidup yang mustahil. Ini berpotensi memicu budaya konsumtif yang berlebihan.
Televisi memiliki peran penting sebagai cermin masyarakat. Namun, ketika layar didominasi oleh Gaya Hidup Fiktif yang tidak akurat, ia justru menjauhkan penonton dari realitas. Minimnya representasi kehidupan kelas menengah dan bawah yang otentik menjadi masalah yang perlu dicermati oleh para pembuat konten.
Penting bagi industri kreatif untuk mulai meninjau ulang narasi yang mereka bangun. Menggantikan intrik kemewahan dengan cerita yang lebih membumi, mendidik, dan relevan akan memberikan manfaat lebih besar. Masyarakat perlu disajikan tontonan yang menginspirasi, bukan hanya yang memamerkan Gaya Hidup Fiktif semata tanpa substansi.
Eksploitasi konflik kelas dalam sinetron dan FTV juga berkontribusi pada polarisasi sosial. Dengan menonjolkan perbedaan dan drama yang tidak sehat antara si kaya dan si miskin, tontonan ini berisiko menanamkan bibit kebencian atau kecemburuan sosial di kalangan penontonnya, alih-alih membangun empati dan pemahaman.
Kritik terhadap Gaya Hidup Fiktif ini bukan berarti menolak semua unsur hiburan dan fantasi. Namun, keseimbangan harus dijaga. Kreator harus mempertimbangkan tanggung jawab sosial mereka untuk tidak hanya mengejar rating, tetapi juga memberikan edukasi dan refleksi positif tentang kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.
