Hilangnya Ruang Hidup Suku Asli Balik Paser Akibat Pembangunan IKN

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa tantangan besar bagi keberlangsungan ruang hidup masyarakat adat, khususnya suku asli Balik dan Paser di Kalimantan Timur. Kawasan yang selama ini menjadi wilayah adat mereka kini mengalami perubahan drastis akibat proyek pembangunan infrastruktur skala besar. Kehilangan akses terhadap lahan hutan dan sumber air menjadi kekhawatiran utama bagi masyarakat setempat, yang selama ini menggantungkan hidupnya pada kekayaan alam di wilayah tersebut secara turun-temurun tanpa merusak lingkungan.

Dampak sosial dari IKN ini menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian dari berbagai pihak terkait. Masyarakat adat merasa terpinggirkan karena hak atas tanah dan wilayah adat mereka seringkali tidak mendapat pengakuan yang memadai dalam proses perencanaan pembangunan kota baru tersebut. Ruang hidup yang hilang bukan hanya soal fisik tanah, tetapi juga hilangnya nilai budaya dan kearifan lokal yang sudah menyatu dengan alam selama ratusan tahun. Keberlanjutan tradisi suku asli Balik dan Paser terancam punah jika proses pembangunan tidak memberikan ruang yang adil bagi mereka dalam setiap tahap pengambilan keputusan terkait wilayah adat.

Pemerintah harus memastikan bahwa proses pembangunan IKN tidak dilakukan dengan mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Dialog inklusif yang melibatkan tokoh masyarakat adat dari Balik dan Paser sangat diperlukan untuk menemukan solusi terbaik agar pembangunan dapat berjalan tanpa harus mengorbankan identitas dan ruang hidup warga setempat. Penghargaan terhadap kearifan lokal harus menjadi fondasi utama dalam visi pembangunan kota masa depan yang berkelanjutan dan berkeadilan. Setiap kebijakan harus dirancang dengan prinsip menghormati hak asasi manusia dan keberlangsungan lingkungan hidup yang menjadi tumpuan bagi kehidupan masyarakat lokal di sana.

Selain perlindungan fisik, pemberdayaan ekonomi masyarakat adat juga harus menjadi perhatian agar mereka tidak hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri. Peluang untuk berpartisipasi dalam pengembangan kawasan harus diberikan secara proporsional. Dengan pendekatan yang berbasis pada pelibatan masyarakat lokal, pembangunan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi seluruh pihak, termasuk para suku asli yang telah menjaga alam Kalimantan sejak lama. Mari kita pastikan bahwa masa depan Nusantara adalah masa depan yang inklusif, menghormati sejarah, dan menjamin kesejahteraan bagi seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali, khususnya bagi mereka yang telah menjadi penjaga setia tanah ini sejak masa lampau hingga saat ini.