Pembangunan ibu kota baru yang mengusung konsep kota pintar dan berkelanjutan membawa harapan besar bagi kemajuan bangsa, namun juga menyisakan pertanyaan krusial mengenai posisi wanita di tengah perubahan masif tersebut. Dalam sebuah transformasi lingkungan dari kawasan hijau menjadi pusat aktivitas administratif yang padat, aspek keamanan gender sering kali terlupakan di balik kemegahan arsitektur beton. Muncul kekhawatiran apakah tata kota yang baru ini benar-benar didesain untuk merangkul kebutuhan keamanan bagi kaum perempuan yang akan mendiami dan beraktivitas di sana setiap harinya.
Kehadiran ribuan pekerja konstruksi dan mobilitas penduduk yang tinggi di kawasan baru ini menuntut adanya jaminan bahwa setiap wanita dapat bergerak bebas tanpa rasa takut akan pelecehan atau tindakan kriminal lainnya. Ruang-ruang publik seperti trotoar, taman kota, hingga sistem transportasi massal harus memiliki standar keamanan yang tinggi, termasuk penerangan yang maksimal dan akses pengaduan yang cepat. Jika sebuah kota modern gagal memberikan rasa aman bagi penduduk perempuannya, maka konsep kota pintar yang diusung hanyalah sebuah slogan tanpa makna yang hakiki.
Peran pemerintah dalam menyusun regulasi yang responsif gender sangat diperlukan untuk memastikan partisipasi aktif wanita dalam pembangunan kota masa depan ini. Hal ini mencakup ketersediaan fasilitas publik yang ramah bagi ibu dan anak, serta lingkungan kerja yang bebas dari diskriminasi maupun kekerasan seksual. Pembangunan fisik yang berjalan cepat tidak boleh meninggalkan pembangunan sosial yang menjunjung tinggi martabat setiap warga negara, tanpa terkecuali bagi mereka yang sering dianggap sebagai kelompok rentan di ruang urban.
Edukasi masyarakat mengenai penghormatan terhadap hak-hak wanita di ruang publik juga harus digalakkan sejak dini sebagai bagian dari budaya kota yang baru. Kota yang maju bukan hanya dilihat dari kecanggihan teknologinya, melainkan dari seberapa aman seorang perempuan bisa berjalan sendirian di malam hari tanpa rasa cemas yang menghantui. Dibutuhkan kerja sama antara aparat keamanan, pengelola kota, dan komunitas sipil untuk menciptakan ekosistem sosial yang saling menjaga dan menghargai satu sama lain di tengah rimba beton yang tumbuh pesat.
