Saat kita membicarakan pembangunan Ibu Kota Nusantara atau IKN di Kalimantan Timur, perhatian kita mungkin lebih banyak tertuju pada desain gedung yang megah, padahal di bawah tanahnya tersimpan batuan yang usianya sangat tua. Secara geologi, wilayah tersebut merupakan bagian dari formasi batuan yang terbentuk jutaan tahun lalu, jauh sebelum manusia mengenal peradaban modern seperti sekarang ini. Jenis batuan yang ditemukan di sana sebagian besar merupakan hasil dari proses sedimentasi dan aktivitas tektonik kuno yang terjadi saat daratan Kalimantan masih berada di posisi yang berbeda dari sekarang. Keunikan lapisan tanah ini memberikan tantangan tersendiri bagi para insinyur bangunan, namun di sisi lain menyimpan catatan sejarah bumi yang sangat luar biasa untuk dipelajari oleh para ahli geologi dunia.
Struktur batuan yang tergolong sangat kuno ini biasanya terdiri dari lapisan sedimen laut dalam yang telah mengalami tekanan luar biasa selama jutaan tahun hingga menjadi sangat keras dan padat. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa area di IKN memiliki kontur tanah yang sangat unik dan membutuhkan teknik fondasi khusus agar bangunan di atasnya tetap stabil dan aman dari risiko pergeseran tanah. Menariknya, di dalam lapisan batu-batu tua tersebut, seringkali ditemukan jejak-jejak fosil mikro yang memberikan petunjuk tentang bagaimana kondisi lingkungan Kalimantan pada masa purba yang sangat jauh. Informasi ini sangat berharga bagi ilmu pengetahuan karena kita jadi tahu bahwa tanah yang sekarang menjadi pusat pemerintahan baru ini dulunya adalah dasar laut yang sangat kaya akan kehidupan laut purba.
Kekuatan batuan purba ini juga menjadi salah satu alasan mengapa wilayah Kalimantan Timur relatif lebih stabil secara tektonik dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia seperti Jawa atau Sumatera. Karena fondasi geologinya terdiri dari batuan yang sudah “matang” dan stabil, risiko terjadinya gempa bumi besar di wilayah IKN cenderung jauh lebih rendah, yang menjadikannya lokasi ideal untuk sebuah ibu kota negara. Namun, sifat batuan sedimen tua ini juga berarti tanahnya memiliki tingkat kesuburan yang berbeda dari tanah vulkanik, sehingga diperlukan manajemen lingkungan yang lebih cerdas dalam menata ruang terbuka hijau di sana. Para ahli tata kota harus benar-benar memahami karakter lapisan bumi di bawah mereka agar pembangunan fisik tidak merusak integritas lingkungan dan tetap menjaga keaslian ekosistem yang sudah ada.
