Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur kini sedang menjadi pusat perhatian internasional saat dunia mulai Mengenal Konsep Forest City yang diterapkan secara ambisius. Berbeda dengan pusat pemerintahan di negara lain yang didominasi oleh beton dan aspal, IKN dirancang sedemikian rupa agar 70 persen wilayahnya tetap berupa ruang terbuka hijau. Visi besar ini bertujuan untuk menciptakan kota yang mampu bernapas bersama alam, di mana ekosistem hutan hujan tropis tetap terjaga meskipun pembangunan infrastruktur modern terus berjalan. IKN bukan sekadar pusat administrasi, melainkan sebuah laboratorium hidup untuk kehidupan urban berkelanjutan.
Dalam upaya Mengenal Konsep Forest City, wisatawan dan pemerhati lingkungan akan melihat bagaimana teknologi canggih diintegrasikan dengan kearifan alam. Penggunaan energi terbarukan, sistem pengelolaan air yang melingkar, dan transportasi publik bertenaga listrik adalah bagian dari struktur kota ini. Namun, jantung dari konsep ini adalah koridor hijau yang memungkinkan satwa liar tetap bermigrasi meskipun berada di tengah kawasan perkotaan. Hal ini menjadikan IKN sebagai pionir dalam menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak harus selalu dibayar dengan kerusakan lingkungan yang masif.
Salah satu dampak positif bagi sektor pariwisata adalah munculnya potensi wisata hijau yang luar biasa. Saat orang mulai Mengenal Konsep Forest City, mereka akan tertarik untuk berkunjung dan melihat langsung bagaimana sebuah kota bisa berfungsi sebagai penyerap karbon. Jalur-jalur canopy walk yang menghubungkan gedung-gedung perkantoran dengan hutan di sekitarnya menawarkan pengalaman unik yang tidak ditemukan di tempat lain. Wisatawan bisa menikmati fasilitas kota modern sambil tetap merasakan kesejukan udara hutan yang bersih dan mendengarkan suara fauna asli Kalimantan yang tetap lestari di habitatnya.
Edukasi lingkungan juga menjadi bagian tak terpisahkan saat masyarakat berupaya Mengenal Konsep Forest City lebih dalam. IKN menyediakan berbagai pusat penelitian dan konservasi yang terbuka untuk umum, menjadikannya destinasi wisata edukasi kelas dunia. Pelajar dan akademisi dari berbagai penjuru dunia datang untuk mempelajari bagaimana rehabilitasi hutan dilakukan secara masif di area bekas tambang dan kebun monokultur. Keberhasilan IKN dalam menyeimbangkan kebutuhan manusia dan alam akan menjadi tolok ukur baru bagi pembangunan kota-kota di seluruh dunia di masa depan.
