Tahayul secara terang-terangan bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAW, yang secara tegas melarang segala bentuk tahayul dan praktik yang mengarah pada kesyirikan. Di antaranya adalah thiyarah (menganggap sial karena sesuatu), tamimah (jimat), dan ruqyah yang tidak sesuai syariat. Larangan ini menunjukkan betapa seriusnya Islam memandang tahayul sebagai ancaman terhadap kemurnian akidah dan kepercayaan kepada Allah SWT semata.
Sunnah Rasulullah SAW adalah pedoman hidup bagi umat Muslim setelah Al-Quran. Dalam banyak hadis, beliau memperingatkan umatnya untuk menjauhi thiyarah. Menganggap sial karena melihat burung gagak, mendengar suara binatang tertentu, atau mengalami kejadian tak terduga adalah bentuk syirik kecil yang melemahkan tauhid, karena menisbatkan kekuasaan pada selain Allah.
Larangan terhadap tamimah atau jimat juga sangat jelas dalam Sunnah Rasulullah SAW. Orang yang menggantungkan jimat dengan keyakinan bahwa itu dapat mendatangkan manfaat atau menolak mudarat telah menyandarkan hati pada benda mati, bukan pada Allah. Ini adalah bentuk menodai tauhid yang serius, karena mengalihkan kepercayaan dari Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya yang tidak berdaya.
Meskipun ruqyah (pengobatan dengan bacaan Al-Quran dan doa) itu sendiri dianjurkan dalam Islam, Sunnah Rasulullah SAW melarang ruqyah yang tidak sesuai syariat. Ruqyah yang mengandung unsur kesyirikan, mantra-mantra tidak jelas, atau meminta bantuan jin adalah praktik yang dilarang. Ini menunjukkan bahwa bahkan dalam mencari kesembuhan, seorang Muslim harus tetap berpegang teguh pada tauhid.
Mengikuti tahayul berarti menunjukkan ketidakrasionalan dan kebodohan, karena mengabaikan bimbingan wahyu dan akal sehat. Islam mendorong umatnya untuk menggunakan pikiran dan ilmu pengetahuan, bukan terjebak pada mitos dan kepercayaan yang tidak berdasar. Praktik tahayul ini juga menjadi sumber ketakutan dan kecemasan yang tidak beralasan, menjauhkan seseorang dari ketenangan hati yang sejati.
Sunnah Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk senantiasa bertawakal kepada Allah setelah berikhtiar semaksimal mungkin. Beliau adalah teladan dalam menghadapi segala ujian dengan kesabaran dan keyakinan penuh pada ketetapan Allah. Sikap pasrah pada tahayul justru menghambat kemajuan dan mengikis semangat ikhtiar, bertentangan dengan ajaran Nabi.
Oleh karena itu, setiap Muslim wajib memahami dan mengamalkan Sunnah Rasulullah SAW dengan benar untuk menghindari tahayul. Memperdalam ilmu agama, belajar dari sumber-sumber yang sahih, dan selalu merujuk pada Al-Quran adalah benteng utama. Dengan begitu, iman akan tetap murni, dan hidup akan diisi dengan ketenangan serta keberkahan dari Allah SWT.
